Mengenal Sejarah dan Perkembangan Kebaya Bali

Mengenal Sejarah dan Perkembangan Kebaya Bali

Mengenal Sejarah dan Perkembangan Kebaya Bali

Sejarah kebaya bermula pada abad ke-15 Masehi. Saat itu, kebaya merupakan busana khas perempuan Indonesia, terutama perempuan Jawa. Busana ini terdiri atas baju atasan yang dipadu dengan kain. Pada pertengahan abad ke-18, ada dua jenis kebaya yang banyak dipakai masyarakat, yakni kebaya Encim, busana yang dikenakan perempuan Cina peranakan di Indonesia, dan kebaya Putu Baru, busana bergaya tunik pendek berwarna-warni dengan motif cantik.

Pada abad ke-19, kebaya dikenakan oleh semua kelas sosial setiap hari, baik perempuan Jawa maupun wanita peranakan Belanda. Bahkan kebaya sempat menjadi busana wajib bagi perempuan Belanda yang hijrah ke Indonesia. Menurut perancang busana Ferry Setiawan, pada era 1940-an, kebaya dipilih Presiden Soekarno sebagai kostum nasional. Saat itu, kebaya dianggap busana tradisional perempuan Indonesia dan menjadi lambang emansipasi perempuan Indonesia. Sebab, kebaya merupakan busana yang dipakai oleh tokoh kebangkitan perempuan Indonesia, Raden Ajeng Kartini. Tak mengherankan jika pada 21 April setiap tahun, para siswi, remaja putri, dan ibu-ibu tampil mengenakan kebaya.

Di Pulau Bali, kebaya memiliki sejarah yang cukup unik. Pada zaman dahulu wanita Bali tidak mengenal kebaya, mereka hanya menggunakan semacam selendang lebar yang dililitkan dari bawah payudara ke arah pinggang. Dengan adanya perkembangan zaman maka barulah di kenal Kebaya Bali yang berawal dari para wanita di lingkungan Puri atau Kerajaan, dan akhirnya memasyarakat ke publik luas.

Adapun bahan dari kebaya bermacam – macam, seperti kain sutra, sifon, katun, brokat, tile dengan berbagai motif dan warna. Penggunaan kebaya ini biasanya dipadupadankan dengan bawahan kain yang dapat berupa kain endek khas bali, batik, tenun maupun songket. Kebaya Bali merupakan bentuk busana atasan yang di pergunakan oleh kaum wanita untuk melakukan persembahyangan.Kebaya Bali dikenakan dengan kain atau kamben seperti kain songket, kain endek, atau dengan kain sutra. Di bali kebaya memiliki sejarah yang jauh lebih kuat. Pada zaman dahulu wanita Bali tidak mengenal kebaya, mereka hanya menggunakan semacam selendang lebar yang dililitkan dari bawah payudara ke arah pinggang. Dengan adanya berkembangnya zaman makan barulah di kenal Kebaya Bali yang berawal dari para wanita di lingkungan puri dan akhirnya memasyarakat ke publik luas.

Menurut orang Bali. Kebaya Bali tidaklah memiliki unsur sakral yang kuat, tetapi melainkan unsur budaya dan adat istiadat yang harus dijaga kelestariannya yang terdapat pada kebaya bali tersebut. Kebaya Bali dikenakan dan di lihat dari segi kerapian, keserasian dan untuk kesempatan apa, bagaimana dan kapan kebaya tersebut dapat di pergunakan.

Kebaya Bali dikenakan pada acara saat-saat tertentu biasanya pada acara yang di anggap penting seperti halnya saat upacara persembahyangan Umat Hindu. Kebaya Bali memiliki ciri khas tersendiri seperti halnya kebya-kebaya dari daerah lain seperti sunda atau jawa adalah bentuk kerah V dan memilih kain tranfaran bermotif dengan aplikasi kain didalamnya. Tetapi Kebaya Bali terletak pada detailnya yang seperti kain yang melilit pada pinggang (senteng). senteng ini ada juga yang langsung dikaitkan dengan kebaya tau terpisah. Kebaya Bali tidaklah leas dari sentuhan-sentuhan modern yang di sentuhkan oleh para desainer.

Kebaya Bali ternyata tidaklah hanya terkenal di lingkungan bali saja, tetapi melainkan di luar pulau bali juga terkenal. Banyak wanita yang tertarik pada Kebaya Bali yang menari dan unik. Dengan adanya hal ini maka keberadaan kebaya modifikasipun menjadi mudah didapatkan di tanah Air. Para luar suku Bali mungkin setuju dengan pernyataan bahwa kebaya bali memiliki ke unikan dan unsur budaya yang tersendiri.

Sumber :
http://prameswarikebayabali.blogspot.co.id/
https://balikebaya.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Order by WA: 0818 0544 6278Kontak Kami